BlogYYY
Jumat, 05 Agustus 2011,Jumat, Agustus 05, 2011
Film Lovehappens
Lovehappend berkisah tentang seorang motivator terkenal bernama Dr Burke Ryan (Aaron Eckhart) yang mempunyai masa lalu yang menyedihkan. Setelah 3 tahun kematian sang istri,ia lalu menuangkan kesedihannya ke dalam sebuah buku yang dia beri judul A-Okay dan menjadi best seller dan akhirnya membawanya kepada kepopuleran sebagai motivator.
Suatu hari Burke tanpa sengaja bertemu dengan Eloise Chandler (Jennifer Aniston), pemilik toko bunga yang baru saja putus dengan kekasihnya. Burke memergoki Eloise menuliskan sesuatu di dinding di belakang lukisan. Karena penasaran Burke mencari arti kata QUIDNUNC yang dituliskan Eloise di balik lukisan. Ia lalu mengajak Eloise berkenalan, tapi Eloise yang sedang tidak ingin berurusan dengan pria setelah patah hati justru berpura-pura bisu. Namun, tanpa sengaja Burke melihat Eloise berbicara kepada seorang resepsionis yang akhirnya mengantarkan Burke dan Eloise kepada sebuah perkenalan. Setelah pertemuan itu Burke dan Eloise mulai mencoba membuka diri dan saling tertarik. Mereka mencoba berkencan namun karena masa lalu mereka membuat mereka lebih berhati-hati dalam berkencan.
Burke lalu bertemu Walter (John Carroll Lynch), salah seorang peserta seminar yang tadinya ingin membatalkan keikutsertaannya pada program A-Okay yang dirancang Burke. Walter kehilangan bisnisnya dan ditinggalkan oleh isterinya karena ia larut dalam duka berkepanjangan akibat kematian anak laki-lakinya. Burke lalu meyakinkan Walter dan membantunya mengatasi kesedihan akibat kematian anaknya.
Sementara itu, Burke diam-diam tidak dapat melupakan rasa bersalahnya karena kematian isterinya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sejak kejadian itu, Burke tidak mau lagi berbicara dengan kedua mertuanya. Burke membuang segala kenangan bersama istrinya bahkan ia tidak datang ke pemakaman istrinya. Burke menutupi apa yang dia rasakan dari semua orang. Dari luar ia selalu menampakan diri sebagai seorang yang kuat, tegar dan mampu menjalani hidupnya. Sebagai seorang motivator yang handal, Burke mampu mengatasi masalah orang lain. Seperti saat ia mengatasi masalah Walter yang kehilangan anaknya. Walter tidak mau meneruskan lagi karernya sebagai kontraktor (karena anaknya meninggal di tempat kerjanya). Dengan ketekunan dan kehandalannya sebagai motivator, Burke mampu mendorong Walter untuk menjalani hidupnya lagi. Namun Burke, tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri. Burke belum bisa berdamai dengan masa lalunya dan terjebak pada kenangan-kenangan pahit tentang istrinya yang belum bisa ia ikhlaskan untuk pergi. Hidup Burke tidak bisa bergerak maju seperti yang ia selalu sarankan ke pada klien-kliennya.
Pertemuan dengan Eloise merubah pribadi Burke. Eloise yang hangat, penyayang dan sabar menuntun Burke ke kehidupan yang lebih baik. Perlahan Burke mulai membuka diri tentang cinta dan mau menceritakan tentang kenangan-kenangan bersama istrinya yang sebelumnya jarang ia ceritakan kepada orang lain.
Suatu hari Burke datang ke rumah mertuanya yang selama 3 tahun setelah istrinya meninggal tidak pernah ia datangi. Awalnya ia tidak mau bertemu dengan mertuanya dan malah hanya mengambil kakaktua istrinya untuk dilepaskan ke alam bebas. Burke pernah berjanji pada istrinya akan melakukan hal tersebut jika suatu hari istrinya pergi. Namun, ketika ia melepaskan burung kakak tua kesayangan istrinya itu, Burke baru sadar bahwa ia belum benar-benar lepas dari luka masa lalu. Ia lebih me-repress segala penderitaan dan kesedihannya dan menggunakan topeng sebagai “motivator yang bahagia” agar orang lain tidak mengetahui penderitaannya. Defense mechanism yang ia pakai berhasil menghindarkannya dari masalah yang sesungguhnya, namun bukan untuk mengatasinya. Burke lebih memilih lari dari kenyataan (flight) dibanding untuk menghadapinya (fight).
Dengan bantuan dari Eloise dan managernya, Lane, Burke mampu menghadapi lukanya. Perlahan Burke mulai berdamai dengan masa lalu, memaafkan dirinya dan tidak menyalahkan dirinya sebagai penyebab kecelakaan istrinya. Burke juga mulai menata ulang hidupnya dan mau membina hubungan kembali dengan mertuanya. Sebagai manusia biasa, seorang motivator handal pun bisa terluka, namun dengan dukungan sahabat dan keluarga, penderitaan yang dirasakan bisa berkurang. Hal yang paling penting adalah memaafkan, yaitu memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain dan memaafkan keadaan, karena manusia tidak bisa mengontrol kejadian di luar dari dirinya. Berdamai dengan masa lalu menjadi penentu langkah kita untuk maju tanpa menengok lagi luka di masa lalu.
Sabtu, 09 Juli 2011,Sabtu, Juli 09, 2011
Link Buat Baca Manga
Suka Manga? Naah.. ini ada link bagus buat kalian bisa baca manga secara online dan juga bisa sekalian download gratis. Ada yang terjemahannya bahasa Inggris maupun Indonesia. Silahkan tinggal klik link nya.
http://indo-komik.blogspot.com/2010/03/20th-century-boys-bahasa-indonesia.html
http://www.manga4indo.com/
http://mangabaru.com/
http://bacamanga.web.id
,Sabtu, Juli 09, 2011
Komik City Hunter Bahasa Indonesia (komplit)
Kenal cerita City Hunter? Manga jadul tapi kocak yang rada echi ini berkisah tentang seorang polisi dalam menumpas semua musuh-musuhnya. Baru-baru ini manga yang satu ini udah dibikin fersi dramanya lho.. Naaaah..kali ini aku dapet link bagus nih (dari blog orang. siapapun Anda, makasih udah mau share ya.. :) )buat download komik-komiknya. Full lengkap dengan bahasa Indonesia. Yang tertarik,silahkan klik link ini.
Minggu, 09 Januari 2011,Minggu, Januari 09, 2011
Pengertian Belajar dan Psikologi Belajar
1. Pengertian Belajar menurut beberapa tokoh:
· Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
- Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
- Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
- Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
- Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
- Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”.
- Skinner (1958) : memberikan definisi belajar “Learning is a process progressive behavior adaptation”. Dari definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa belajar akan mengarah pada keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Disamping itu belajar juga memebutuhkan proses yang berarti belajar membutuhkan waktu untuk mencapai suatu hasil.
- McGeoch (1956) : memberikan definisi belajar “learning is a change in performance as a result of practice. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, yang disebabkan oleh proses latihan.
- Kimble: memberikan definisi belajar “Learning is a relative permanent change in behavioral potentiality occur as a result of reinforced practice. Dalam definisi tersebut terlihat adanya sesuatu hal baru yaitu perubahan yang bersifat permanen, yang disebabkan oleh reinforcement practice.
- Horgen (1984) : memberikan definisi mengenai belajar “learning can be defined as any relatively, permanent change in behavior which occurs as a result of practice or experience” suatu hal yang muncul dalam definisi ini adalah bahwa perilaku sebagai akibat belajar itu disebabkan karena latihan atau pengalaman.
2. Pengertian Psikologi Belajar
Psikologi belajar terdiri atas dua kata, yaitu psikologi dan belajar. Kata psikologi berasal dari Bahasa Inggris psychology. Kata ini diadopsi dari Bahasa Yunani yang berakar dari dua kata yaitu psyche yang berarti jiwa atau roh, dan logos berarti ilmu. Jadi secara mudah psikologi berarti ilmu jiwa. Beberapa ahli memberikan pendapat mengenai arti psikologi. RS. Woodworth berkata psychology can be defined as the science of the activities of the individual (Woodworth, 1955:3). Ngalim Purwanto (1996:12) menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Tingkah laku disini meliputi segala kegiatan yang tampak maupun yang tidak tampak, yang dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Sedang Sarwono (1976) mendefinisikan psikologi dalam tiga definisi. Pertama, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan. Kedua, psikologi adalah ilmu yang mempelajari hakikat manusia. Ketiga, psikologi adalah ilmu yang mempelajari respon yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sedangkan Belajar,menurut Muhibbin (2006) berpendapat bahwa belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sedang menurut Morgan dalam Introdution to Psycology (1978) berpendapat belajar adalah perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan. Ngalim Purwanto (1996:14) menyatakan bahwa belajar memiliki empat unsur:
a. Perubahan dalam tingkah laku
b. Melalui latihan
c. Perubahan relative mantap
d. Perubahan meliputi fisik dan psikis
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses menuju perubahan yang bersifat mantap melalui proses latihan dalam interaksi dengan lingkungan dan meliputi perubahan fisik dan mental.
Dari pengertian masing-masing psikologi dan belajar, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa psikologi belajar adalah suatu ilmu yang mengkaji atau mempelajari tingkah laku manusia, didalam mengubah tingkah lakunya dalam kehidupan pribadi, kemasyarakatan dan kehidupan alam sekitar melalui proses pendidikan.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa psikologi belajar menitik beratkan pada perilaku orang-orang yang terlibat dalam proses belajar, yaitu pendidik dan murid.
,Minggu, Januari 09, 2011
SEJARAH TERAPI PERSON-CENTERED
A.
Psikologi telah lama didominasi oleh pendekatan empiris tentang studi tingkah laku individu. Banyak ahli psikologi Amerika yang menunjukan kepercayaan pada definisi-definisi operasional dan hipotesis-hipotesis yang biasa diuji serta memandang usaha memperoleh data empiris sebagai satu-satunya pendekatan yang sahih guna memperoleh informasi tentang tingkah laku manusia.
Di masa lalu tidak terdapat bukti adanya minat yang serius terhadap aspek-aspek filosofi dari konseling dan psikoterapi. Pendekatan eksistensial-humanistik,di lain pihak, menekankan pada filosofi tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Perkembangan aliran-aliran behaviorisme dan psikoanalistik ternyata merisaukan banyak psikolog di Negara itu. Mereka melihat, bahwa kedua aliran tersebut memandang manusia sebagai makhluk yang sudah ditentukan nasibnya,yaitu oleh stimulus (behaviorisme) atau oleh alam ketidaksadaran (psikoanalisis). Kemudian lahirlah aliran psikologi humanistik yang memulihkan keseimbangan dalam psikologi dengan berfokus pada kebutuhan-kebutuhan manusia dan pengalaman manusia. Karena itulah meskipun humanistik tidak sedasyat psikoanalisa dan behavioristik dalam peranannya,namun humanistik sering disebut “kekuatan ketiga” dalam psikologi. Salah satu metode terapi yang terkenal adalah metode terapi yang berpusat pada klien (Client Center) yang diplopori oleh Carl Roger. Carl Roger sadalah seseorang yang dibesarkan dengan latar belakang keluarga seorang penganut Kristiani fundamentalis yang taat dan ketat. Selama masa perkembangannya,dari anak-anak sampai masa dewasanya Rogers sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran agama dari orang tuanya. Bahkan di tahun keduanya sebagai mahasiswa,dia memutuskan untuk menjadi seorang pendeta.
Pada tahun 1920,Carl Rogers yang pada tahun tersebut berusia 20 tahun,mengunjungi Cina sebagai delegasi untuk konferensimahasiswa Kristen Internasional. Dalam kunjungannya selama 6 bulan tersebut,dia mengalami suatu pengalaman menarik. Dia menemukan suatu bagian dirinya yang penting dan baru. Untuk pertama kalinya,dia terbuka kepada orang-orang dari berbagai macam latar belakang,baik intelektual maupun kultural,yang ide-ide dan penampilan serta bahasa mereka asing baginya. Ketika berinteraksi dengan mereka,Rogers mulai terpengaruh oleh ide-ide mereka. Kepercayaan-kepercayaan fundamentalisnya yang kuat, ditembus, dilemahkan,dan akhirnya dibuang.
Rogers mencatat pikiran-pikiran dan perasaannya pada waktu itu dalam suatu jurnal. Akibat dari pengalamannya di Cina adalah putusnya ikatan agama dan intelektual dengan orangtuanya dan kesadaran bahwa dia “dapat berfikir menurut pikiran-pikiran saya sendiri,sampai kepada kesimpulan-kesimpulan saya sendiri,dan menjadi saksi terhadap kepercayaan saya sendiri”. Kebebasan yang diperolehnya ini,menyebabkan dia sadar bahwa pada akhirnya seseorang akan bersandar pada pengalamannya sendiri.
Pendekatan Rogers terhadap terapi dan model kepribadian sehat yang dihasilkan,memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia yang disanjung-sanjung dan optimis. Tema pokoknya adalah seseorang harus bersandar pada pengalamanya sendiri tentang dunia karena hanya itulah kenyataan yang diketahui oleh seorang individu.
Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan yang akan dilakukan oleh klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya.
Perkembangan pendekatan client-centered disertai peralihan dari penekanan pada teknik terapi kepada penekanan pada kepribadian, keyakinan dan sikap ahli terapi, serta pada hubungan terapeutik. Hart (1970) membagi perkembangan teori Rogers kedalam tiga periode :
Ø Periode 1 (1940-1950) : Psikoterapi non-direktif
Pendekatan ini menekankan pada penciptaan iklim permisif dan non-interventif. Pada periode ini, ahli terapi secara nyata menghindarkan diri dari interaksi dengan klien. Ahli terapi berfungsi sebagai penjernih, tetapi tidak menampilkan kepribadiannya sendiri. Saat ini, terapi client-centered mengandalkan dorongan pertumbuhan bawaan klien, dimana klien akan mencapai pemahaman atas dirinya dan situasi kehidupannya.
Ø Periode 2 (1950-1957) : Psikoterapi reflektif
Pada periode ini, terapi beralih dari penekanan pada kognitif kepada klarifikasi, yang mengarah pada pemahaman. Ahli terapi terutama merefleksikan perasan-perasaan klien dan menghindari ancaman dalam hubungan dengan kliennya. Peran ahli terapi dirumuskan ulang, penekanan diperbesar pada tanggapan ahli terapi pada perasaan pasien. Ahli terapi merefleksikan perasaan yang semata-mata menjelaskan komentar-komentar klien. Untuk menunjang reorganisasi konsep diri klien, ahli terapi bertugas menghilangkan sumber ancaman dari hubungan terapeutik dan berfungsi sebagai cermin sehingga klien dapat memahami dunianya sendiri dengan lebih baik, dan mampu mengembangkan keselarasan antara konsep dirinya saat ini dengan konsep diri yang ideal. Sekalipun demikian, ahli terapi sebagai pribadi tetap tidak ditampakkan.
Ø Periode 3 (1957-1970) : Psikoterapi eksperensial
Periode ini ditandai oleh sikap ahli terapi yang lebih luas dalam mengungkapkan sikap-sikap dasarnya. Terapi dipusatkan pada apa yang dialami oleh klien dan apa yang dialami oleh ahli terapi. Sebagai prasyarat agar terapi bisa efektif, ahli terapi dituntut mempunyai sikap keselarasan, pandangan dan penerimaan positif, dan pengertian empatik. Kemudian fokus dialihkan dari refleksi ahli terapi atas perasaan-perasaan klien pada tindakan ahli terapi tersebut.
Dalam 30 tahun terakhir terapi client centered telah bergeser ke arah lebih banyak membawa kepribadian terapis kedalam proses terapeutik. Pada periode awal, terapis non direktif secara nyata menghindarkan diri dari interaksi dengan klien. Terapis berfungsi sebagai penjernih, tetapi tidak menampilkan kepribadiannya sendiri. Pada periode ini, teknik seperti bertanya,menggali, mengevaluasi, dan menafsirkan serta prosedur-prosedur seperti sejarah kasus, tes psikologi dan diagnosis tidak menjadi bagian dari proses terapeutik karena semua berlandaskan pedoman eksternal; terapi client-centered mengandalkan dorongan pertumbuhan bawaan klien.
Kemudian, terapi beralih dari penekanan kognitif kepada klarifikasi, yang mengarah kepada pemahaman. Ciri periode psikoterapi reflektif yang menandai perubahan dalam praktek terapi yang aktual adalah penekanan pada pemberian respons secara peka terhadap unsure afektif alih-alih pada unsure semantic dari ungkapan klien. Peran terapis dirumuskan ulang, penekanan diperbesar pada ketanggapan terapis terhadap perasaan-perasaan klien. Terapis merefleksikan perasaan yang semata-matamenjelaskan komentar-komentar klien. Untuk menunjang re-organisasi konsep diri klien, terapis menjalankan tugas dasar menghilangkan sumber-sumber ancaman dari hubungan terapeutik dan berfungsi sebagai cermin sehingga klien bisa memahami dunianya sendiri dengan lebih baik. Terapis sebagai pribadi tetap bersembunyi dalam rumusan ini.
Pada periode berikutnya, terapi eksperiental menitikberatkan kondisi-kondisi tertentu yang “diperlukan dan memadai” bagi kelangsungan perubahan kperibadian. Periode ini memperkenalkan unsure-unsur penting dari sikap-sikap terapis, yakni keselarasan, pandangan dan penerimaan positif, dan pengertian yang empatik sebagai prasyarat bagi terapi yang efektif. Kemudian, focus dialihkan dari refleksi terapis atas perasaan-perasaan klien kpeada tindakan terapis mengungkapkan perasaan-perasaan langsungnya sendiri dalam hubungan dengan klien. Rumusan yang mutakhir memberikan tempat pada lingkup yang lebih luas dan keluwesan yang lebih besar dari tingkah laku terapis, mencakup pengungkapan-pengungkapan atau pendapat-pendapat, perasaan-perasaan dan sebagainya yang pada periode sebelumnya tidak diharapkan muncul.
Fokus pada pengalaman langsung dari terapis mengarahkan terapis kepada pengungkapan perasaan-perasaannya sendiri terhadap klien jika dianggap pantas dan lebih dari periode-periode sebelumnya, mengizinkan terapis untuk membawa kepribadiannya sendiri. Rumusan awal dari pandangan client-centered menuntut terapis agar mampu menahan diri dari keinginan memasukkan nilai-nilai dan penyimpangan-penyimpangannya sendiri kedalam hubungan terapeutik. Terapis menjauhi prosedur-prosedur yang umum digunakan seperti penetapan tujuan-tujuan, pemberian saran, penafsiran tingkah laku, dan pemilihan topic-topik yang akan dieksplorasi. Bagaimanapun, rumusan yang mutakhir mengarahkan dirinya sendiri pada pengurangan larangan-larangan tersebut diatas dan membenarkan terapis untuk lebih bebas dan aktif berpartisipasi dalam hubungan dengan klien dalam rangka mencipakan suatu atmosfer dimana klien merasa sepenuhnya diterima, apapun teknik atau gaya yang digunakan oleh terapis.
,Minggu, Januari 09, 2011
PSIKOLOGI INDIVIDU ALLPORT

Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kemudian Allport juga berpendapat bahwa kepribadian yang neurotis dan kepribadian yang sehat merupakan hal yang mutlak terpisah. Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah tentang antisipasi, Dalam teori Allport antisipasi adalah penting untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita. Allport selalu mementingkan adanya sifat, kompleks dan khas dari tingkah laku manusia. Semua itu memiliki dasar / kesatuan / unitas. Tingkah laku yang disadari adalah yang terpenting. Dan juga mementingkan ego / self . Menurutnya,self merupakan satu-satunya sepribadian yang sebenarnya. Dengan kata lain self dibentuk melalui deferiensiasi medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu serta dari distorsi pengalaman. Self bersifat integral dan konsisten. Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap ancaman dan self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologic dan belajar. Konsep self menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri cerdas, menyenangkan, jujur, baik hati dan menarik.
● Struktur dan dinamika kepribadian
Di teori lain, struktur dan dinamika dibahas secara terpisah. Namun oleh allport semua itu dinyatakan dalam bentuk sifat. Antara struktur dan dinamika itu sama. Sifat adalah penekanan teori allport sehingga sering disebut dengan traits psychology.
Organisasi dinamik menekankan bahwa kepribadian selalu berkembang dan berubah. Psikofisis menunjukan bahwa kepribadian bukan hanya mental dan neural, namun jiwa dan raga menjadi suatu kesatuan pribadi. Kepirbadian individu dipengaruhi oleh kepribadian masing masing dari istilah menentukan. Yang dimaksudkan dengan khas / unik adalah allport memberi penekanan pada individualitas, bahwa tidak ada 2 orang yang benar benar sama dalam hal kepribadian. Kepribadian itu memiliki arti sebagai adaptasi / penyesuaian diri dengan lingkungan.
● Watak mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu dimana individu akan dinilai perilakunya. Watak sebagai kepribadian yang di evaluasi dalam arti normatif. Watak yang baik adalah watak yang sesuai dengan norma yang berlaku.
● Temperamen biasanya menunjuk pada disposisi disposisi yang erat kaitannya dengan faktor faktor biologis / fisiologis dan sedikit sekali mengalami perubahan dalam perkembangan dan memiliki peran yang besar dibanding aspek aspek lain.Temperamen adalah gejala karakteristik dari sifat individu , termasuk mudah tidaknya kena rangsangan emosi , cepat / tidak berekasi, kualitas hidup. Bergantung pada faktor konstitusional, terutama keturunan.
● Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan. Sifat memiliki eksistensi dalam diri individu. Sifat dibedakan dengan habits. Kebiasaan merupakan kecenderungan kecenderungan bersifat menentuka. Sifat merupakan sifat gabungan dari beberapa kebiasaan. Menurut allport, sifat dan sikap adalah predisposisi untuk merespon dan khas , dapat membimbing tingkah laku, merupakan hasil belajar dan faktor genetis.
● Sikap, berhubungan dengan suatu objek sehungga lebih luas. Makin besar objek dikenai sifat, maka sifat dan sikap akan menjadi semakin mirip. Sikap biasanya mengandung penilaian terhadap suatu objek.
Orang dapat memiliki suatu sifat tapi tidak dapat memiliki suatu tipe. Sifat dapat memunculkan keunikan pribadi, sedangkan tipe menenggelamkannya. Pembagian sifat :
- sifat kardinal ( pokok ). Sangat menonjol, sehingga pengaruhnya dapat langsung dilihat. Jenisnya relatif kurang biasa sehingga tidak tampak. Sifat kardinal nampak pada setiap orang tapi tidak semua orang punya sifat ini
- Sifat sentral. Merupakan kecenderungan kecenderungan yang sangat khas pada individu, sering muncul dan sangat mudah disimpulkan . contoh : ekstravert dan introvert
- Sifat sekunder
Contoh Perilaku :
Seseorang memiliki kepribadian yang matang menurut allport memiliki hal-hal dibawah ini. Berikut contoh perilakunya :
- Ekstensi sense of self
Seorang mahasiswa semester akhir yang telah masuk dalam masa dewasa awal, berusaha untuk memperluas “link” agar mereka bisa memperluas pergaulan mereka, sehingga dengan mengenal berbagai macam orang mahasiswa itu belajar ubtuk lebih mengerti minat orang lain dan mengerti minatnya sendiri. Misalnya saja dalam hal pekerjaan yang akan ia geluti nanti. Dengan begitu ia mulai mempunyai rencana masa depan, apa yang ingin ia lakukan demi masa depannya.
2. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain
Seseorang yang telah masuk ke masa dewasa awal dan madya pasti berusaha mencari kedekatan dengan lawan jenis, itu semua dilakukan untuk membina hubungan dengan orang lain. Seperti mencari pasangan hidup, serta meminta persetujuan keluarga atas pilihannya.
3. Penerimaan diri
Dalam masa ini emosi seseorang tidak lagi meluap-luap, misalnya saja ia diputus oleh kekasihnya, ia akan lebih bisa mengontrol diri, tidak mudah frustasi dalam menghadapinya.
4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Bila seseorang mengalami masalah, misalnya saja masalah yang cukup besar dikantor, maka ia harus dapat mengatasinya tanpa panik atau malah merusaknya, ia pun sudah bisa memilih mana tugas yang cocok untuknya dan mana yang tidak.
5. Objektifikasi diri: insight dan humor
Contoh perilakunya adalah empati, kita harus bisa menempatkan diri di posisi orang lain, agar bisa diterima oleh masyarakat, kita tidak menjadi seseorang yang teralu subyektif. Dan juga dalam hidup ini kita butuh hiburan, seperti tv yang berisi acara komedi misalnya, itu tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditertawakan, tetapi lebih agar kita bisa melihat keanekargaman manusia.
6. Filsafat Hidup
Seseorang yang mulai dewasa, ia pasti telah memiliki patokan dalam hidupnya, misalnya saja pemuda islam, ia pasti telah menaati perintah islam, dan menjadikan itu semua sebagai falsafah hidup maupun pegangan hidupnya.
Perkembangan kepribadian
Bayi
Allport memandang neonates (bayi baru lahir) sebagai makhluk yang eksistensinya nyaris semata-mata berupa hereditas, dorongan primitive dan reflex. Neonates belum memiliki sifat-sifat khusus yang baru muncul kemudian sebagai akibat dari transaksi-transaksi dengan lingkungan. Neonatus belum memiliki kepribadian. Pemenuhan suatu potensi masih harus menunggu pertumbuhan dan pematangan. Seorang anak sebagian besar merupakan makhluk yang terdiri atas tegangan-tegangan segmental dan perasaan-perasaan mikmat – sakit atau enak- tidak enak. Teori biologis tentang tingkah laku yang bersandar pada hadiah atau hukuman sangat cocok pada tahap awal kehidupan. Pada tahun berikutnya, seorang bayi mulai memperlihatkan kualitas-kualitas tertentu, misalnya perbadaan-perbedaan gerakan dan ekspresi emosional yang cenderung menetap atau lebur menjadi cara-cara penyesuaian yang lebih matang.
a. Berupa hereditas, dorongan primitive, dan reflex
b. Belum memiliki kepribadian
c. Tahun selanjutnya mulai menunjukan kualitas tertentu
Transformasi kanak-kanak
Allport menyetujui banyak prinsip tentang perubahan yang terjadi dari masa bayi ke masa dewasa. Namun, prinsip belajar oportunistik tidak cocok untuk menjelaskan belajar pada propium yang membutuhkan prinsip seperti identifikasi, penutupan (closure), wawasan kognitif, gambaran diri, dan subsidiasi kearah system ego yang aktif. Allport hanya mengemukakan oltonomi fungsional sebagai suatu kenyataan dasar dalam motivasi manusia yang harus dijelaskan dengan prinsip belajar yang belum dikoordinasi dengan baik menjadi suatu teori yang cukup luas. Otonomi fungsional menjelaskan bahwa apa yang semula sekedar alat untuk mencapai suatu tujuan biologis dapat menjadi motif otonom yang mengarah tingkah laku dengan daya seperti yang dimilki oleh dorongan yang dibawa sejak lahir. Sebagian besar karena adanya diskontinuitas antara struktur motivasi individu pada masa awal lalu pada masa yang berikutnya. Allportr mengemukakan hanya ada dua teori kepribadian, yaitu : berupa model biologis untuk menjelaskan tingkah laku individu setelah kelahiran dan secara bertahap semakin berkurang sampai dengan berkembangnya kesadaran tentang diri dan individu mengembangkan motif yang tidak berhubungan erat dengan motif yang mendorong tingkah laku yang sebelumnya.
a. Terjadi perubahan tingkah laku yang pada masa awal kehidupan yang hanya berupa dorongan primitive menjadi sesuatu yang lebih sadar dan terorganisasi
b. Terdapat otonomi fungsional, yaitu perubahan dari perilaku yang didorong atas dasar hadiah atau hukuman kenjadi sesuatu yanmg berkembang berdasarkan motivasi yang orientasinya pada masa depan
Orang dewasa
Tingkah laku telah ditentukan oleh sekumpulan sifat yang terorganisasi dan harmonis. Sifat ini muncul dengan berbagai cara dari masa neonates. Apapun yang dapat mendorong tingkah laku sangat berfungsi pada masa dewasa yang orientasi perilakunya atas kesadaran dan rasionalisasi. Tingkah laku mengikuti pola yang harmonis dan pada intinya terdapat suatu fungsi yang disebut dengan propium. Motif yang ada beorientasi pada masa yang akan dating. Menurut allport, kepribadian yang matang harus memiliki suatu perluasan diri yang artinya hidup tidak boleh terikat secara sempit pada sekumpulan aktivitas yang erat hubungannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan kewajiban kewajiban pokoknya. Orang harus mengambil tanggung jawabnya dan menikmati bermacam-macam aktivitas. Seorang pribadi yang matang harus mampu menjalin hubungan yang hangat dengan orang-orang lain, dan memiliki orientasi realistic.
a. Tingkah laku dari sekumpulan sifat yang terorganisasi dan matang
b. Perilaku berdasarkan kesadaran, realitas dan memiliki tujuan masa depan
c. Memilki suatu cirri pribadi matang, yaitu : memiliki perluasan diri, mampu menjalani hubungan yang matang dengan orang lain, memiliki orientasi realistic terhadap diri sendiri (humor dan insight)
Penelitian khas dan metode penelitian
Idiografik versus nomotetik
Seorang peneliti dapatmemilih meneliti tingkah laku dengan menggunakan prinsip umum, variable universal dan sejumlah besar subjek atau memusatkan perhatian pada kasus individu dengan menggunakan metode dan variable yang sesuai dengan keunikan setiap individu. Allport meminjam istilah dari filsuf Jerman, Windelband, idiografik (individual) dan nomotetik (universal). Namun, tahun 1962 ia mengganti dengan istilah baru, morfogenik untuk idiografik dan dimensional untuk nomotetik. Allport mengemukakan dua hal ini memiliki tempat dalam psikologi. Tetapi penekanannya khusus dikalangan psikologi Amerika lebih condong pada nomotetik sehingga perlu reorientasi yang drastic karena morfogenik akan menghasilkan prediksi dan pemahaman yang lebih baik. Tekanan dan pendekatan morfogenik merupakan suatu akibat logis dari beberapa segi pandangan teoritis allport.
Pertama, penekanan pada keunikan setiap orang mewajibkan peneliti untuk memilih metode penelitian yang tidak akan menyembunyikan dan mengaburkan individualitas.
Kedua, penekanan pada pentingnya disposisi-disposisi pribadi sebagai factor primer perilaku. Apabila disposisi ini merupakan sesuatu yang real dalam kepribadian dan disposisi ini khas pada pribadi yang bersangkutan, maka jleaslah bahwa pendekatan yang paling efektif untuk meneliti suatu perilaku adalah suatu metode yang meneliti sang individu.
Teknik yang pas yang dipakai allport dan Vernon dalam penelitian mereka adalah mengenai tingkah laku ekspresif, analisis structural dan analisis isi.pendekatan yang dimakasud Q methodology, individualized questionnaires, self anchoring scale, the role construck repertory test, inverse factor analysis.
Pengukuran kepribadian secara langsung dan tidak langsung
Allport konsisten terhadap kesadaran dan rasionalitngkah laku. Keyakinanya pada individu yang normal bertingkah laku berdasarkan motif-motif yang ia ketahui dan masuk akal.allport menyatakan bahwa metode langsung dan tidak langsung akan mengahsilkan gambaran uyang konsisten dalam kasus individu yang normal.
Allport menyimpulakan metode tidak langsung dapt mengungkapkan factor tak sadar yang penting dari tingkah laku. Metode tidak langsung hanya digunakan sebagai pelengkap dari metode langsung. Untuk orang normal, metode langsung menunjukan gambaran yang lebih lengkap dan berguna tentang struktur motovasi.
Peneliitian tentang tingkah laku ekspresif
Awal tahun 1930-an, allport dan temannya mengadakan serangkaian penelitian untuk membuktikan bahwa perilaku ekspresif adalah penting dan konsisiten. Allport membedakan dua komponen dalam setiap respon manusia. Pertama, komponen adaptif atau komponen penanggulangan, yaitu komponen yang terutama menyangkut nilai fungsi atau manfaat suatu perbuatan,a kibat yang ditimbulkan perbuatan tersebut, atau tujuan yang ingin dicapai. Kedua, komponenekspresif, cara atau gaya dalam melakukanperbuatan itu. Sesuai dengan penekanan pada unsure-unsureindividual dan unik tingkah laku, allport menaruh minat pada perilaku ekspresif, yaitu komponen idiosinkratik atau personal yang bahkan akan tetap kelihatan pada respon yang paling steriotip.
Gaya tingkah laku tidak semata-mata ditentukan oleh factor kepribadian. Factor sosiokultural, keadaan atau suasana hati, kondisi organis, dan variable lain juga menentukan perilaku ini. Tingkah lakiu ekspresif dapat diklasifikasikan menurut tipe perbuatan yang dilakuakn, seperti : ekspresi wajah, gaya jalan, suara dan tulisan tangan. Allport menyatakan :cirri-ciri ekspresif tubuh tidaklah diaktifkan secara lepas. Setiap cirri tersebut dipengaruhi dengan cara yang persis sama seperti cirri lainnya. Karena itu, sampai pada batas tertentu pernyataan Lavater bahwa “jiwa yang satu dan sama terwujud dalam segalanya” bias dibenarkan. Akan tetapi konsistrensi tidaklah pernah sempurna. Masing-masing saluran ekspresi bukan merupakan duplikat yang tepat dari semua saluran lainnya. Apabila demikian halnya, maka metode monosimtomatik benar adanya. Seluruh kepribadian dapat terungkap dalam setiap cirri. Tulisan tangan dapat mengatakan segalanya, begitu juga mata, tangan atau lengan kaki,. Bukti yang dikumpulkan tidak membenarkan intrepetasi yang begitu sederhana.
Surat-surat jenny
Allport mengumpulkan 301 surat dari seorang baya bernama Jenny Masterson yang dimanfaatkan Baldwin untuk menganalisa kepribadian yang menonjol pada Jenny. Baldwin menggunakan analisis struktur personal. Langkah yang dilakukan : 1. Membaca surat tersebut untuk mengidentifikasikan topic dan tema yang mencolok. 2. Menemukan hubungan antara topic. Maka kepribadian dapat dilihat dengan penghitungan statistic dari apasaja topic yang ditulis dan seberapa banyaknya atau seringnya topic tersebut diceritakan. Namun allport hanya menuliskan pengelompokan sifat-sifat yang sering dimunculkan berdasarkan surat yang dituliskan jenny. Namun allport sendiri juga melakukan evaluasi seperti yang ia tuliskan : “analisis isi bukanlah kunci emas untuk membuka kepribadian jenny.tetapi berperan untuk mengobjektifikasikan, mengkuantifikasikan dan sampai batas tertentu memurnikan kesan yang didasarkan pada akal sehat. Dengan membuat kita selalu dekat dengan data, maka kita tidak dibiarkan merusak evidensi. Ia juga berperan untuk menemukan hal-hal baru yang muncul kadang.
Status sekarang dan evaluasi (allport)
Dimulai dengan minat untuk menemukan sejenis sataun yang cocok dalam mendeskripsikan kepribadian yang menghasilkan konsepsinya tentan sifat, dibarengi dengan perhatian tentang transformasi perkembangan yang terjadi pada motif-motif dan mencapai puncaknya pada konsep otonomi fungsional, secara bertahap ia memodifikasikan teorinya sampai akhirnya ia memberi tekanan yang lebih besar pada intensionalitas dan fungsi-fungsi ego(proprium)
Penekanan Allport pada fungsi-fungsi aktif proprium (ego) dan konsepnya tentang otonomi fungsional sangat sesuai dengan perkembangan-perkembangan mutakhir dalam psikologi ego psikoanalitik.
Salah satu gejala mencolok di bidang psikologi dalam 60 tahun terakhir adalah lenyapnya dan disusul munculnya kembali konsep diri dan ego. Allport sangat berpengaruh dalam memulihkan dan memurnikan konsep ego. Ia tidak hanya menempatkan konsep itu dalam konteks historis tapi juga secara pantang menyerah berusaha memperlihatkan perlunya secara fungsional menggunakan konsep tersebut secara spesifik dalam rangka menerangkan tingkah laku manusia yang normal dan kompleks.
Segi baru lainnya dalam pandangan Allport adalah tekanan pada pentingnya factor-faktor tingkah laku sadar, dan sejalan dengan ini anjurannya tentang penggunaan metode –metode langsung untuk menilai mengukur manusia. Yang lebih sejalan dengan kecendrungan-kecendrungan dalam psikologi dewasa ini adalah imbauan Allport untuk meneliti kasus individual secara terinci dengan monografnya tentang penggunaan dokumen pribadi dalam psikologi, tekanannya pada metode idiografik, esainya, jelas merupakan salah satu dari tokoh terpenting dalam gerakan yang menyebabkan kasus individual diterima sebagai objek penelitian psikologi yang sah dewasa ini.
Allport merupakan teoritikus yang menjadi jembatan efektif antara psikologi akademik beserta tradisinya di satu pihak serta bidang psikologi klinis dan kepribadian yang berkembang dengan cepat. Kontiunitas ini tidak hanya berperan memperkaya masing-masing sub disiplin dengan wawasan sub disiplin lainnya tapi juga menjaga sejenis kontiunitas intelektual yang penting bagi perkembangan psikologi jangka panjang.
Segi terakhir dalam pandangan Allport adalah tekanannya pada masa depan dan masa sekarang dan mengabaikan masa lampau. Karena pengaruh psikoanalisis begitu kuat maka mudah bagi seorang peneliti atau seorang praktisi untuk melupakan peranan factor situasional dan factor masa kini tingkah laku karena terpukau pada konsep determinasi historis. Tulisan Allport bermanfaat untuk selalu memperingatkan bahwa masa lampau bukanlah keseluruhan individu yang berfungsi.
Banyaknya kritik yang dialamatkan pada tulisan Allport misalnya konsep otonomi fungsional tidak dapat dibuktikan sescara empiris , apalagi membuat prediksi tentang peristiwa yang tak teramati. Kesulitan yang muncul tentang konsep ini ketika mengajukan gagasan tentang proprium sebagai kriterium untuk menentukan apa yang menjadi otonom. Otonom fungsional tidak dapat dijadikan dasar untuk menjelaskan terhapusnya atau menghilangnya suatu respon tertentu dan tidak perduli berapa lama respon tertentu tidak dapat diamati karena gagal dihapuskan. Kritik yang mungkin serius adalah Allport tidak memberi penjelasan memdai tentang proses atau mekanisme yang mendasari otonomi fungsional. Ia mengatakan gejala itu terjadi tetapi tidak menjelaskan bagaimana gejala itu bisa terjadi. Segi lainnya yang dikritik adalah tentang diskontiunitas parsial antara normal dan tak normal, antara bayi dan orang dewasa, antara binatang dan manusia. Pada kenyataannya para psikolog telah meminjam konsepsi yang dikembangkan melalui observasi terhadap binatang yang lebih rendah yaitu begitu banyak sehingga membuat asumsi tentang diskontiunitas dalam spesies manusia lebih sulit diterima. Mereka yang banyak kritik tadi bahwa teori banyak memberi perhatian penuh pada kesalingterkaitan semua tingkah laku tetapi gagal mengenali hubungan timbal balik antara tingkah laku dan situasi lingkungan tempat tingkah laku itu beroperasi. Allport dengan kesabarannya yang khas dan mnedengarkan dan menanggapi kritik ini. Allport menyatakan bahwa adalah tugas psikologi untuk meneliti system pribadi karena sang pribadilah yang menerima, menolak atau tetap tidak terrpengaruh oleh system-sistem social. Eklektikisme yang toleran dari Allport terlihat dalam pemecahannya terhadap pertentangan antara pribadi dan masyarakat.
Ciri yang paling menonjol dari tulisan teoritis Allport adalah bahwa kendati bersifat pluralistic dan ekletik, tulisan itu berhasil menciptakan kesan baru dan mempunyai pengaruh luas, karyanya yang menyajikan aspek positif tingkah laku manusia dengan cara yang menghormati keunikan setiap organism hidup.
,Minggu, Januari 09, 2011
TEORI ABRAHAM MASLOW
Orang yang memiliki kodrat bawaan yang pada hakikatnya adalah baik atau sekurang-kurangnya netral. Seperti halnya fisik,kejiwaan manusia mempunyai kebutuhan yang pada prinsipnya tidak ada yang jahat. Dari segi fisik,manusia mempunyai indra,merasa lapar,bertumbuh kembang,dan sebagainya. Dari segi kejiwaan,manusia mempunyai kebutuhan,cita-cita,harapan,usaha,dan sebagainya. Semua ini adalah baik dan harus dikembangkan kea rah yang lebih baik lagi.
Maslow berpendapat manusia yang sehat jiwanya adalah manusia yang mengembangkan dirinya sendiri berdasarkan kekuatan-kekuatan dari dalam. Apabila manusia menderita atau neurotic, maka hal itu disebabkan karena lingkungan menyebabkan demikian lewat ketidaktahuan dan patologi social atau karena mereka telah mendistorsikan pikiran mereka. Dalam arti lain,orang-orang yang terganggu jiwanya adalah orang-orang yang terhambat perkembangan dirinya,yang frustasi oleh gangguan-gangguan dari luar. Karena itu psikoterapi atau konseling bertujuan mengembalikan seseorang ke jalu pengembangan dirinya sendiri melalui potensi-potensi yang ada dalam dirinya sendiri juga.

Maslow telah mengemukakan suatu teori tentang motivasi manusia yang membedakan antara kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) dan metakebutuhan-metakebutuhan (metaneeds). Kebutuhan dasar meliputi lapar, kasih saying, rasa aman, harga diri dan sebagainya. Metakebutuhan-metakebutuhan meliputi keadilan, kebaikan, keindahan, dan sebagainya. Kebutuhan dasar adalah kebutuhan akibat kekurangan sedangkan metakebutuhan adalah kebutuhan untuk pertumbuhan. Hal ini lebih dikenal dengan teori hierarki kebutuhan. Ciri-ciri khas orang luar biasa antara lain :
- Mereka berorientasi secara realistik
- Mereka menerima diri mereka sendiri, orang lain, dunia kodrati seperti apa adanya
- Mereka sangat spontan
- Mereka memusatkan diri pada masalah dan bukan pada diri mereka sendiri
- Mereka mampu membuat jarak dan memiliki kebutuhana akan privasi
- Apresiasi mereka terhadap orang-orang dan benda-benda adalah segar, bukan penuh prasangka
- Kebanyakan diantara mereka memiliki pengalaman mistik atau spiritual yang dalam, meskipun tidak perlu bersifat religius
- Mereka memiliki hubungan yang mendalam dengan sesama manusia
- Hubungan menreka akrab dengna beberapa orang yang dicintai secara khas mendalam serta sangat emosional.
- Nilai dan sikap mereka adalah demokratik
- Mereka tidak mencampurkan antara tujuan dan sarana
- Perasaan humor mereka lebih bersifat filosofis dan bukan perasaan humor yang menimbulkan permusuhan
- Mereka sangat kreatif
- Mereka menentang konformitas terhadap kebudayaan
- Mereka mengatasi lingkungan bukan hanya menghadapinya
Maslow juga meneliti sifa dari apa yang disebut ”pengalaman-pengalaman puncak” (peak experience). Ditemukan bahwa orang-orang yang mengalami pengalaman-pengalaman puncak merasa lebih terintergrasi, lebih spontan, kurang menyadari rung dan waktu, lebih cepat dan mudah menyerap sesuatu dan sebagainya.